Klik dong

Jumat, 18 Juli 2014

Nikmat Allah Untuk Apa Seharusnya Digunakan

Nikmat Allah Untuk Apa Seharusnya Digunakan
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:
Akal yang kita miliki merupakan nikmat, begitu pula pendengaran, penglihatan dan juga hati, semuanya merupakan anugerah ilahi. Dan bila kita cermati maka semua sarana tadi merupakan media untuk dapat mengenali sesuatu. Akan tetapi, adakah seorang muslim yang telah sempurna didalam memanfaatkan nikmat-nikmat tadi, kemudian menunaikan bentuk syukurnya kepada Sang pemberi. Dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menerangkan pada kita dalam salah satu firman -Nya:

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan -Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur". (QS an-Nahl: 78).

Sesungguhnya setiap pribadi kita mempunyai tanggung jawab terhadap nikmat-nikmat diatas, maka wajib bagi kita untuk menggunakan nikmat-nikmat tadi didalam ketaatan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla bukan sebaliknya untuk bermaksiat pada         -Nya, digunakan untuk perkara yang dihalalkan bukan yang diharamkan, disumbangkan dalam kebenaran bukan dalam kebatilan, diarahkan dalam kebaikan bukan dalam kejelekan. Karena Allah  Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡ‍ُٔولا ٣٦ ﴾ [ الإسراء: 36]
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya". (QS al-Israa': 36).

Apakah sudah kita gunakan akal kita untuk memahami? Karena Allah ta'ala menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ إِنَّآ أَنزَلۡنَٰهُ قُرۡءَٰنًا عَرَبِيّا لَّعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ ٢ ﴾ [ يوسف: 2]
"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur'an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya". (QS Yusuf: 2).

Apakah akal yang kita miliki sudah kita gunakan untuk berfikir? Dimana Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلۡأٓيَٰتِ لِقَوۡم يَتَفَكَّرُونَ ٢٤ ﴾ [ يونس: 24]
"Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir". (QS Yunus: 24).
Apakah pendengaran yang bertengger disisi kepala kita sudah kita gunakan untuk semestinya? Yang mana Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menegur kita didalam firman -Nya:
﴿ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٍۚ أَفَلَا يَسۡمَعُونَ ٢٦ ﴾ [ السجدة: 26]
"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka Apakah mereka tidak mendengarkan? (QS as-Sajdah: 26).

Apakah penglihatan yang kita miliki sudah kita gunakan pada tempatnya? Bukankah Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ وَفِيٓ أَنفُسِكُمۡۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٢١ ﴾ [ الذريات: 21]
"Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS adz-Dzariyaat: 21).

Apakah kita sudah mempergunakannya untuk memperhatikan sekeliling kita? Bukankah Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ قُلِ ٱنظُرُواْ مَاذَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَمَا تُغۡنِي ٱلۡأٓيَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوۡم لَّا يُؤۡمِنُونَ ١٠١﴾ [ يونس: 101]
"Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman". (QS Yunus: 101).

Tidakkah kita memahami betapa agung Dzat yang telah menciptakan, dan betapa besar penciptaan -Nya tersebut. mulai dari penciptaan langit dan bumi, matahari dan bulan, tata surya  beserta rasi bintang nya, air dan tanah, benda mati dan tumbuh-tumbuhan, malaikat dan jin, manusia dan hewan, malam dan siang, angin dan gempa, api dan biji-bijan. Itu semua adalah ciptaan Dzat yang satu yaitu Allah Shubhanahu wa ta’alla. sebagaimana firman -Nya:
 ﴿ ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء وَكِيل ٦٢﴾ [ الزمر: 62]
"Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu". (QS az-Zumar: 62).

Apakah engkau pernah mengetahui ada seorang selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menciptakan makhluk-makhluk tersebut?
Sangat jauh sekali, bahkan bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla semata hak mencipta dan mengatur. Sebagaimana di tegaskan didalam firman -Nya:
﴿ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤ ﴾ [ الأعراف: 54]
"Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam". (QS al-A'raaf: 54).

Apakah engkau pernah mengetahui ada seseorang yang mampu membolak-balikkan malam dan siang selain Allah azza wa jalla?
Duhai sangat jauh sekali, karena hanya -Dia yang mampu melakukan hal itu, seperti ditegaskan dalam firman -Nya:
﴿ يُقَلِّبُ ٱللَّهُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبۡرَة لِّأُوْلِي ٱلۡأَبۡصَٰرِ ٤٤﴾ [ النور: 44]
"Allah mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan". (QS an-Nuur: 44).

Apakah engkau pernah mengetahui ada seseorang yang mampu menundukkan matahari dan bulan selain Allah ta'ala?
Duhai sangat jauh sekali, karena bagi -Nya semata yang mampu melakukan nya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman -Nya:
﴿ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ دَآئِبَيۡنِۖ ٣٣ ﴾ [ ابراهيم: 33]
"Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya)". (QS Ibrahim: 33).

Apakah engkau mengetahui ada seseorang selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menciptakan manusia? Duhai sangat jauh sekali, karena hanya -Dia yang mampu melakukannya. Sebagaiman Allah Shubhanahu wa ta’alla jelaskan dalam firman -Nya:
﴿ لَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ فِيٓ أَحۡسَنِ تَقۡوِيم ٤ ﴾ [ التين: 4]
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya". (QS at-Tiin: 4).

Apakah engkau mengetahui ada seseorang selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mampu mengurusi angin kemana bergerak?
Duhai sangat jauh sekali, karena hanya Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang mampu melakukannya. Seperti yang -Dia terangkan dalam firman -Nya:
 ﴿ ٱللَّهُ ٱلَّذِي يُرۡسِلُ ٱلرِّيَٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابا ٤٨  ﴾ [ الروم: 48]
"Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan". (QS ar-Ruum: 48).

Apakah engkau mengetahui ada seseorang selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang ikut serta menciptakan langit dan bumi? Sangat jauh sekali, karena hanya Allah Shubhanahu wa ta’alla yang mampu melakukannya. Sebagaimana dijelaskan dalam fireman -Nya:
﴿ إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّام ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ إِذۡنِهِۦۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ فَٱعۡبُدُوهُۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ٣ ﴾ [ يونس: 3]
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin -Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?". (QS Yunus: 3).
Siapakah yang menjadikan bumi ini terbentang? Siapakah yang menjadikan malam sebagai penutup siang? Siapakah yang menjadikan siang sebagai sarana untuk mencari penghidupan? Siapakah yang menciptakan hewan dan tumbuh-tumbuhan? Siapakah yang mengangkat langit tanpa ada tiang penyangga? Siapakah yang menggerakkan angin? Siapakah yang memberi rizki para hamba? Siapakah yang menciptakan segala sesuatu kemudian menjadikan masing-masing mempunyai takdir?
Sesungguhnya itu lah Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain -Dia, yang tidak ada Rabb yang mengatur selain -Dia. Sebagaimana  dijelaskan dalam firman -Nya:
﴿ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡء فَٱعۡبُدُوهُۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء وَكِيل ١٠٢ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ١٠٣﴾ [ الأنعام: 102-103]
"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah dia; dan -Dia adalah pemelihara segala sesuatu. -Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan -Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui". (QS al-An'aam: 102-103).

Itulah ayat-ayat yang agung, yang diciptakan oleh Dzat yang tidak lemah oleh sesuatu apapun dimuka bumi ini tidak pula dilangit.
Sesungguhnya keberadaan ayat-ayat tadi menunjukan tentang keberadaan Penciptanya. Keagungan ayat-ayat tadi membuktikan tentang ke Maha agungan Penciptanya. Dan kekuatan ayat-ayat tadi menunjukan tentang kemampuan Penciptanya. Dan pergerakan dan diamnya ayat-ayat tadi menunjukan tentang kehidupan Penciptanya serta pengaruhnya. Maha suci Allah, penguasa alam semesta. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:

﴿ هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰل مُّبِين ١١﴾ [ لقمان: 11]
"Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan(mu) selain Allah. sebenarnya orang- orang yang zalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata". (QS Luqman: 11).
Tidakkah engkau menyadari betapa Agung yang diciptakan yang menciptakan dan yang di kuasai. Betapa agung penciptaan Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menguasai itu semua. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:

﴿ قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء قَدِير ٢٦ تُولِجُ ٱلَّيۡلَ فِي ٱلنَّهَارِ وَتُولِجُ ٱلنَّهَارَ فِي ٱلَّيۡلِۖ وَتُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَتُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّۖ وَتَرۡزُقُ مَن تَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَاب ٢٧ ﴾ [ آل عمران: 26-27]
"Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)". (QS al-Imraan: 26-27).

Mungkinkah Melihat Allah ?
Pernah ada seseorang yang bertanya padaku, "Sesungguhnya nikmat penglihatan ini merupakan bagian dari sekian banyak nikmat  yang Allah Shubhanahu wa ta’alla karunikan pada kita semua, dengan penglihatan tadi saya mampu melihat langit dengan segala keajaibannya, juga saya bisa menyaksikan matahari dengan cahayanya, bintang gemintang dengan keindahannya, bumi ini dengan dataran dan gunung-gunungnya, tumbuh-tumbahan dan hewan-hewannya, daratan dan lautannya.
Sungguh dari situ aku merasakan betapa agung penciptanya, dan saya sangat yakin kalau itu semua pasti ada penciptanya, akan tetapi, pertanyaan yang mengganjal, apakah mungkin saya mampu melihat Allah Shubhanahu wa ta’alla sebagaimana saya mampu melihat ciptaan -Nya tadi? Saya katakan padanya, "Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla menciptakan alam semesta ini dengan segala isinya, mulai dari makhluk-makhluk besar seperti langit dan bumi, matahari dan bulan, manusia dan binatang, benda mati dan tumbuh-tumbuhan, dan lain sebagainya.
Allah ta'ala jadikan semua makhluk-makhluk tadi sebagai tanda serta bukti yang nyata bagi orang yang masih selamat akal pikirannya, yang menggambarkan tentang keberadaan, keagungan serta ke esaan Allah azza wa jalla. seperti dikatakan, "Pada segala sesuatu ada tanda yang menunjukan akan ke esaan -Nya". Dia menyatakan, "Tidak diragukan lagi kebenaran ucapanmu, tapi, apakah cukup sampai disini, atau ada tambahan lagi? Ia, jawabku.
Sesungguhnya indera mata yang kecil lagi sempit ini mempunyai batasan penglihatan yang mampu dijangkaunya, karena tidak mungkin semua yang ada wujudnya mampu dilihatnya. Maka, penglihatan yang masuk dalam kapasitas jangkauan mata kita sangatlah terbatas, demikian pula yang dilihat juga terbatas. Seperti misalnya; Angin ada bentuknya, tapi, apakah engkau mampu melihatnya? Tidak bisa. Akal yang ada dikepala itu juga ada bentuknya, tapi, apakah engkau mampu melihatnya? Tidak bisa. Ruh yang ada ditubuh seorang manusia juga bentuknya ada, tapi, apakah engkau mampu melihatnya? Jawabannya juga tidak bisa.
Dari itu kita menyakini bahwa benda-benda ini, ada wujudnya akan tetapi tidak bisa terlihat, yang terlihat hanyalah akibat serta efeknya saja. Apakah dirimu bisa melihat orang yang terhalangi tembok? Tentu sulit. Apakah engkau mampu melihat bumi secara detail atau dirimu melihat semua bintang yang ada dilangit? Sudah dapat dipastikan dirimu tidak akan sanggup untuk melihatnya kecuali sedikit saja diantaranya.
Apakah engkau mampu menyaksikan sesuatu yang jauh, atau sesuatu yang dekat tapi lembut? Itu juga tidak mungkin. Apakah dirimu tahan melihat panas matahari dengan mata telanjang disiang hari bolong? Mustahil kamu dapat melakukan tanpa bantuan alat. Apakah mungkin kamu mendaki gunung hanya dengan menggunakan tanganmu, atau memasukkan khayalan dari makanan yang paling enak sekalipun kedalam perutmu, atau melihat udara dengan mata telanjang? Sangat mustahil. Karena dirimu lemah, kemampuan yang engkau miliki juga lemah, yang tidak mungkin engkau sanggup untuk menggapai seluruhnya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal itu didalam firman -Nya:
﴿ يُرِيدُ ٱللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمۡۚ وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفا ٢٨﴾ [ النساء: 28]
"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia dijadikan bersifat lemah".  (QS an-Nisaa': 28).

Karena sesungguhnya sifat perfect (sempurna) itu semua hanya milik Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, dan sifat mulia itu semua juga milik -Nya semata, dan sifat agung itu juga semua milik Allah Shubhanahu wa ta’alla semata. Sebagaimana di jelaskan didalam fiman -Nya:
﴿ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ ٨ ﴾ [ طه: 8]
"Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai asmaaul husna (nama-nama yang baik)". (QS Thahaa: 8).

Sesungguhnya kursinya Allah Shubhanahu wa ta’alla seluas langit dan bumi, dan –Dia bersemayam diatas Arsy -Nya, yang bentuk ciptaan     -Nya tidak sebanding sama sekali dengan kursi tempat menaruh kedua kaki -Nya, dan langit yang tujuh lapis bila dibanding dengan Arsy kecuali seperti cincin yang dilempar ke tengah padang pasir. Bila demikian, bagaimana mungkin engkau bisa melihat dan menjangkau Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan bola mata yang lemah lagi terbatas jangkauannya.
Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah pemberi cahaya langit dan bumi, seperti dijelaskan dalam firman -Nya yang menyatakan:
﴿ ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ ٣٥ ﴾ [ النور: 35]
"Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi". (QS an-Nuur: 35).

       Dan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya apakah melihat Allah (ketika mi'raj) kelangit tujuh? Beliau menjawab, "Cahaya, bagaimana mungkin aku bisa melihat -Nya". HR Muslim no: 178.
Dalam redaksi lain Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:



قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لأَحْرَقَ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ » [أخرجه مسلم]
"Hijab penutupnya adalah cahaya yang kalau seandainya tabir tersebut dibuka niscaya akan hancur setiap makhluk yang memandang -Nya". HR Muslim no: 179.

Sehingga sangat jauh sekali kemungkinan kedua matamu yang lemah itu, yang digunakan untuk melihat cahaya matahari saja tidak sanggup, apalagi melihat Allah Shubhanahu wa ta’alla secara langsung. Tidakkah engkau menyadari betapa menakjubkan kondisi orang, yang sejatinya sangat lalim dan bodoh.
Dan dengarlah kisah, tatkala Musa 'alaihi sallam memohon pada Rabbnya untuk diberi kesempatan melihat -Nya, maka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengabarkan padanya kalau dirinya tidak mungkin akan sanggup untuk melihatnya, kemudian –Dia menyuruh Musa untuk mengalihkan penglihatannya ke arah gunung manakala  –Dia  menampakkan pada gunung tersebut, dalam rangka pembuktian, menguatkan penolakan yang Allah Shubhanahu wa ta’alla lakukan padanya. Dan hal itu direkam secara jelas oleh Allah ta'ala melalui firman -Nya:
﴿ وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَٰتِنَا وَكَلَّمَهُۥ رَبُّهُۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِيٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَۚ قَالَ لَن تَرَىٰنِي وَلَٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَكَانَهُۥ فَسَوۡفَ تَرَىٰنِيۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُۥ دَكّا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقاۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ ١٤٣ ﴾ [ الأعراف: 143]
"Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat -Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. maka setelah Musa sadar kembali, Dia berkata: "Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".  (QS al-A'raaf: 143).

Lihat pada gunung ini, dengan ukuran yang demikian besar bersama materi partikel yang begitu keras, tidak sanggup menahan tatkala Allah Shubhanahu wa ta’alla menampakkan padanya. Lantas bagaimana mungkin seorang manusia akan melihat -Nya secara langsung dimuka bumi ini dengan penglihatan mata yang serba lemah yang tidak sanggup menahan hanya untuk melihat matahari! Atau untuk melihat udara, akal, serta ruh, bagaimana mungkin hal itu sanggup, maka Maha suci Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ١٠٣﴾ [ الأنعام: 103]
"Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang -Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui". (QS al-An'aam: 103).

Maka adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu, sedangkan -Dia tidak mungkin sanggup dikuasai oleh yang lain.
Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha mampu melakukan segala sesuatu, -Dia Maha menguasi setiap makhluk, sedangkan tidak ada seorang makhlukpun yang sanggup menguasai -Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha meliputi setiap makhluk, sedangkan tidak ada seorang makhlukpun yang sanggup meliputi -Nya. Maha benar Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menyatakan dalam firman     -Nya:
﴿ وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٦٧ ﴾ [ الزمر: 67]
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman -Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan -Nya. Maha suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan". (QS az-Zumar: 67).

Dan diantara bentuk kasih sayang dan hikmah yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan pada para hamba -Nya adalah menjadikan makhluk -Nya tidak bisa melihat -Nya didunia, dikarenakan mereka kalau seandainya mampu melihat dengan keagungan dan kebesaran  -Nya niscaya mereka akan taat kepada       -Nya dan tidak berani melakukan perbuatan maksiat kepada -Nya selama-lamanya. Maka hilang lah hikmah diadakannya beban taklif perintah dan larangan, akan percuma adanya ganjaran dan hukuman, oleh karena itu -Dia melarang kita untuk bisa melihat -Nya didunia, dikarenakan Allah Shubhanahu wa ta’alla menginginkan supaya kita mendatangi -Nya, beriman kepada -Nya, serta mentaati -Nya dalam keadaan kita bebas menentukan tanpa adanya paksaan. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

﴿ وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ٢٩ [الكهف: 29]
"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".  (QS al-Kahfi: 29).

Seorang raja dunia saja tidak ada yang berani melawannya ketika sedang berada dihadapannya atau berada didaerah kekuasaannya karena rasa segan dan hormat padanya, lantas bagaimana kalau seandainya kita melihat Raja diraja, yaitu Allah azza wa jalla. Akan tetapi kita bisa melihat -Nya didunia ini dengan perantara hati bukan dengan mata telanjang, kita melihat ciptaan       -Nya dari sekian juta makhluk yang berada disekeliling kita beserta keagungan ciptaan -Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
﴿ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡء فَٱعۡبُدُوهُۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء وَكِيل ١٠٢ لَّا تُدۡرِكُهُ ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَٰرَۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ ١٠٣﴾[ الأنعام: 102-103]
"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain -Dia, Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah -Dia, dan -Dia adalah pemelihara segala sesuatu. -Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang -Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan -Dialah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui". (QS al-An'aam: 102-103).

Namun, bukan berarti Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak bisa dilihat selama-lamanya, karena orang-orang yang beriman kelak akan melihat -Nya secara langsung diakhirat sebagai bentuk penghargaan pada mereka. Seperti yang ditegaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla didalam firman -Nya:
﴿ وُجُوه يَوۡمَئِذ نَّاضِرَةٌ ٢٢ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَة ٢٣ ﴾ [ القيامة: 22-23]
"Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat".  (QS al-Qiyaamah: 22-23).

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengenali sifat-sifat pencipta kita melalui perantara tanda-tanda kekuasaan -Nya dan makhluk-makhluk -Nya yang tersebar memenuhi ruang langit dan bumi, dan adanya pengaturan pada makhluk menunjukan adanya yang mengatur, adanya ilmu menunjukan adanya yang maha mengetahui, adanya kemampuan menunjukan adanya yang maha mampu, adanya nikmat menunjukan adanya yang memberi nikmat, adanya perawatan menunjukan adanya yang merawat, demikian seterusnya. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:

﴿ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰت وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء قَدِير وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا ١٢ ﴾[ الطلاق: 12]
"Allah -lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu  -Nya benar-benar meliputi segala sesuatu". (QS ath-Thalaq: 12).

        Maka ilmu yang paling besar, serta pondasi ilmu yang terbaik adalah mengetahui  Allah Shubhanahu wa ta’alla dan nama-nama serta sifat-sifat -Nya dan perbuatan -Nya, kekuasaan, agama, janji serta ancaman -Nya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ فَٱعۡلَمۡ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ وَٱسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۢبِكَ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مُتَقَلَّبَكُمۡ وَمَثۡوَىٰكُمۡ ١٩ ﴾ [ محمد: 19]
"Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal".  (QS Muhammad: 19).

Orang tersebut lalu menyatakan, "Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberimu taufik, sungguh sekarang aku menjadi paham dengan obrolan ringkas yang banyak mengandung faidah ini.
Duhai betapa meruginya para hamba, sangat disesalkan masih adanya kebodohan, celaka bila enggan berfikir dan merenung, sesungguhnya kitab suci yang Allah Shubhanahu wa ta’alla turunkan pada kita mengandung segala penjelasan. Apakah kita sudah membaca al-Qur'an? Karena sesungguhnya dirimu tidak mungkin mendapati kebenaran sejati yang jelas dan gamblang melainkan melalui ayat-ayat -Nya serta mukjizat yang tersimpan didalamnya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱللَّهِ نَتۡلُوهَا عَلَيۡكَ بِٱلۡحَقِّۖ فَبِأَيِّ حَدِيثِۢ بَعۡدَ ٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ يُؤۡمِنُونَ ٦ ﴾ [ الجاثية: 6]
"Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan -Nya". (QS al-Jaatsiyah: 6).

Ya Allah berilah taufik kepada kami untuk mudah mengamalkan isi kitab -Mu dan mengikuti sunah nabi -Mu, dan jadikan kami sebagai orang-orang yang apabila mendengar ucapan yang baik mampu memilah dan mengikuti yang benar.

Perilaku Kita

Perilaku Kita
Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, kami memuji -Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada -Nya, kami berlindung kepada -Nya dari kejahatan diri-diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah Shubhanahu wa ta’alla sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk.
Aku bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, yang tidak ada sekutu bagi -Nya. Dan aku juga bersaksi bahwasannya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah hamba dan Rasul -Nya. Amma Ba'du:
Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menulis catatan takdir seluruh makhluk serta telah menentukan kejadian-kejadiannya. Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menciptakan segala sesuatu lalu menentukan takdir sesuai dengan ilmu -Nya, hal itu sebagaimana dijelaskan oleh Allah ta'ala didalam firman -Nya:
﴿ إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَر ٤٩ وَمَآ أَمۡرُنَآ إِلَّا وَٰحِدَة كَلَمۡحِۢ بِٱلۡبَصَرِ ٥٠ وَلَقَدۡ أَهۡلَكۡنَآ أَشۡيَاعَكُمۡ فَهَلۡ مِن مُّدَّكِر٥١ وَكُلُّ شَيۡء فَعَلُوهُ فِي ٱلزُّبُرِ ٥٢ وَكُلُّ صَغِير وَكَبِير مُّسۡتَطَرٌ ٥٣  ﴾ [ القمر: 49-53]
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata. dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran? dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan. dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis". (QS  al-Qomar: 49-53).

Maka segala sesuatu telah ditentukan catatan takdirnya, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal itu didalam firman -Nya:
﴿ وَكُلَّ شَيۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ كِتَٰبا ٢٩ ﴾ [ النبأ: 29]
"Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab". (QS an-Naba': 29).

Dan dalam hal ini Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda dalam hadits yang shahih:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ - قَالَ - وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ » [أخرجه مسلم]
"Allah telah mencatat takdir seluruh makhluk sebelum penciptaan langit dan bumi lima ribu tahun. Beliau menyatakan, "Dan Arsynya Allah itu berada diatas air". HR Muslim no: 2653.

Maka hak mencipta dan mengurusi adalah mutlak untuk Allah Shubhanahu wa ta’alla semata, dan sesungguhnya ilmu -Nya meliputi segala sesuatu. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ سَبۡعَ سَمَٰوَٰت وَمِنَ ٱلۡأَرۡضِ مِثۡلَهُنَّۖ يَتَنَزَّلُ ٱلۡأَمۡرُ بَيۡنَهُنَّ لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء قَدِير وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا  ١٢ [ الطلاق: 12]
"Allah -lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu -Nya benar-benar meliputi segala sesuatu". (QS ath-Thalaaq: 12).

Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla memberi fitrah pada manusia berada diatas tauhid. Sebagaimana di tegaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:
﴿ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٣٠ ﴾ [ الروم: 30]
"(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS ar-Ruum: 30).

Kalau seandainya manusia lebih menyukai kejelekan, maka dipastikan penyebabnya ialah fitrahnya sudah rusak yang terkadang terpengaruh oleh lingkungannya, seperti dijelaskan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Tidaklah bayi terlahir melainkan dalam keadaan suci, maka kedua orang tua lah yang merubah dirinya menjadi seorang Yahudi atau Nahsrani atau Majusi". HR Bukhari no: 1358. Muslim no: 2658.

Dan keadaan manusia pada awal sejarahnya adalah umat yang satu yang berada diatas tauhid, agama yang lurus. Maka tatkala terjadi perselisihan diantara mereka Allah Shubhanahu wa ta’alla mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, untuk menepis perselisihan yang terjadi dikalangan mereka dan mengembalikan manusia kepada jalan yang benar, dan sebagai bentuk kasih sayang dan keutamaan yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan pada mereka. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal tersebut didalam firman -Nya:
﴿ كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّة وَٰحِدَة فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِۚ ٢١٣ ﴾ [ البقرة: 213]
"Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan". (QS al-Baqarah: 213).

Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla yang menciptakan segala sesuatu, meliputi segala sesuatu tersebut, dan mengetahuinya serta melindungi segala sesuatu tadi, dalam sebuah kitab yang Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak lupa didalamnya, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal itu dalam firman -Nya:
﴿ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِير ٧٠ ﴾ [ الحج: 70]
"Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah". (QS al-Hajj: 70).

Maka setiap gerak gerik para hamba itu diketahui oleh -Nya, tertulis di Lauh Mahfudh, namun yang perlu dipahami bahwa maksud hal itu bukan berarti para hamba itu dikendalikan seperti robot, yang diharuskan bagi mereka untuk melakukan yang baik maupun yang buruk dalam perilakunya, akan tetapi, ilmu Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan perilaku hamba bila disandarkan pada kita seperti halnya sebuah penemuan baru, karena kita lemah dan kapasitas keilmuan kita juga terbatas, sedangkan ilmu -Nya meliputi segala sesuatu.
Sehingga perbuatan apapun yang dilakukan oleh seorang hamba maka telah nampak semuanya di Lauh Mahfudh, dan perbuatan yang dilakukan oleh hamba tersebut sama persis seperti yang diketahui oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, karena sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui apa yang telah terjadi, dan apa yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Allah Shubhanahu wa ta’alla menciptakan segala sesuatu dan mengetahui segala sesuatu. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
 ﴿ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡء فَٱعۡبُدُوهُۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡء وَكِيل ١٠٢ ﴾ [ الأنعام: 102]
"(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu". (QS al-An'aam: 102).
Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mengetahui perbuatan para hamba semuanya, dan -Dia telah mencatatnya di dalam Lauh Mahfudh, bukan karena sebagai pelaziman untuk dikerjakan oleh seorang hamab, namun, hanyalah sebagai bukti nyata bahwa Allah itu maha mengetahui hamba -Nya serta apa yang dilakukan oleh mereka.
Dan sungguh Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui bahwa hamba –Nya si fulan akan lahir pada waktu tertentu, dalam keadaan kafir atau beriman, sebagai orang yang taat atau ahli maksiat, termasuk orang-orang yang berbahagia atau sebaliknya. Itu semua menunjukan bahwa ilmu Allah Shubhanahu wa ta’alla meliputi segala sesuatu. Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan hal itu dalam firman -Nya:
﴿ Ÿwr& ãNn=÷ètƒ ô`tB t,n=y{ uqèdur ß#Ïܯ=9$# 玍Î7sƒø:$# [ الملك: 14]
"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan); dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?". (QS al-Mulk: 14).

Maka sesungguhnya perbuatan para hamba itu semuanya telah diketahui oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla, detailnya diketahui sebagaimana yang lainnya. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿ وَكُلَّ شَيۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ كِتَٰبا ٢٩ ﴾ [ النبأ: 29]
"Dan segala sesuatu telah Kami catat dalam suatu kitab". (QS an-Naba': 29).

Dijelaskan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلَّا كُتِبَ مَكَانُهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلَّا قَدْ كُتِبَ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ فَمَنْ كَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنَّا مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ قَالَ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ  ))فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى((  الْآيَةَ » [أخرجه البخاري ومسلم]
"Tidaklah salah seorang diantara kalian, dan tidaklah ada makhluk yang bernyawa melainkan telah ditentukan tempatnya di surga maupun dineraka, telah dicatat menjadi orang sengsara maupun bahagia". Maka ada seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulallah, kenapa kita tidak bersandar pada catatan takdir dan meninggalkan amal? Bukankah orang yang ditentukan sebagai orang yang bahagia akan mengerjakan amalan ahli sa'adah (bahagia), dan siapa yang ditentukan sebagai orang yang sengsara maka akan mengerjakan amalan orang yang sengsara? Rasulallah menjawab, "Adapun orang yang bahagia maka akan dimudahkan untuk mengerjakan amalan orang yang bahagia, adapun orang yang sengsara maka akan dimudahkan untuk mengerjakan amalan orang yang sengsara, kemudian beliau membaca firman Allah ta'ala:

﴿فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ٥ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ٦ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ٧﴾ [ الليل:5-7]
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah". (QS al-Lail: 5-7). HR Bukhari no: 4948. Muslim no: 2647.

Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui hamba -Nya yang menjadi calon penghuni surga dan penghuni neraka, dan hal tersebut telah ditentukan sebelumnya, lalu beliau melarang untuk bersandar pada catatan takdir sebagimana dilakukan oleh orang-orang yang ingkar, kemudian beliau mengajak untuk beramal. Barangkali ada yang berkata, selagi Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menentukan padaku kalau diriku termasuk dari kalangan yang taat, atau termasuk ahli maksiat, lantas ngapain saya beramal?
Kita jawab, "Apakah anda telah melongok ke lauh mahfudh, sehingga bisa melihat apakah anda termasuk ahli surga atau ahli neraka? Tentunya tidak mungkin anda mampu melongok dan melihat catatan takdir yang ada di lauh mahfudh tersebut, karena hal itu hanya Allah Shubhanahu wa ta’alla semata yang mengetahuinya. Sebagaimana ditegaskan oleh -Nya dalam firman -Nya:
﴿ عَٰلِمُ ٱلۡغَيۡبِ فَلَا يُظۡهِرُ عَلَىٰ غَيۡبِهِۦٓ أَحَدًا ٢٦ إِلَّا مَنِ ٱرۡتَضَىٰ مِن رَّسُول فَإِنَّهُۥ يَسۡلُكُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ رَصَدا ٢٧ ﴾ [ الجن: 26-27]
"(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai -Nya, maka sesungguhnya -Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya". (QS al-Jinn: 26-27).

Dari sini kita jadi tahu bahwa ilmu Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan perilaku perbuatan dan akhir perjalanan seorang hamba adalah ilmu inkisyaf bila dinisbatkan pada kita, maknanya bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui setiap perbuatan yang dilakukan oleh para hamba sebelum menciptakan mereka serta sebelum menciptakan perbuatan mereka, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla telah mencatat itu semua didalam lauh mahfudh, maka setiap orang tidak mengetahui dengan apa dia akan mengakhiri kehidupannya, akan tetapi, wajib bagi mereka untuk terus berbuat karena setiap orang akan dimudahkan untuk mengerjakan sesuai dengan catatan takdir yang telah ditentukan sebelumnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, "Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui segala urusan tepat dengan kejadiannya, terkadang -Dia menjadikan sebab yang menjadi faktor terjadinya hal tersebut, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui bahwa kejadian tersebut terjadi dengan sebab tersebut, Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui bahwa orang ini termasuk hamba yang bahagia kelak diakhirat, dan orang ini termasuk yang sengsara, hal tersebut karena dirinya mengerjakan amalan para ahli maksiat, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla mengetahui bahwa orang ini termasuk orang yang sengsara diakhirat dengan sebab mengerjakan perbuatan ahli maksiat itu…".
Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla maha mampu untuk melakukan segala sesuatu, maka tidak terjadi sesuatupun dari perilaku perbuatan para hamba, melainkan Allah Shubhanahu wa ta’alla terlebih dahulu mengetahui sebelum terjadinya perbuatan tersebut, dan kalau seandainya Allah Shubhanahu wa ta’alla menghendaki niscaya -Dia akan mengabarkan pada kita atas perbuatan tadi, akan tetapi, dengan kasih sayang dan pengasih -Nya kepada para hamba, maka -Dia tidak membebani mereka melainkan dengan sesuatu yang mereka mampu untuk mengerjakannya atau jika tidak mengerjakan maka sebagai bentuk ujian bagi mereka, kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menjelaskan bagi mereka kebenaran lalu mengaruniakan akal padanya dan membiarkan mereka untuk bisa memilih, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ ٢٩﴾[ الكهف: 29]
"Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir".  (QS al-Kahfi: 29).
Kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan segala sesuatu ada sebabnya, maka apa yang berada disisi –Nya bisa diraih dengan sebab-sebab yang telah disyariatkan, dunia juga demikian bisa diraih dengan melakukan sebab, surga ada sebab yang harus dilakukan supaya bisa menjadi penghuninya, neraka juga seperti itu ada sebab yang menyebabkan masuk ke dalamnya, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menyuruh kita untuk melakukan sebab, seperti tertuang dalam firman -Nya:
﴿ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱرۡكَعُواْ وَٱسۡجُدُواْۤ وَٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُواْ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ۩ ٧٧ ﴾ [ الحج: 77]
"Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan". (QS al-Hajj: 77).

Lalu mengandengkan ganjaran dan balasan sesuai dengan pilihan yang dipilih oleh seorang hamba, maka bagi siapa yang beriman dan beramal sholeh, Allah Shubhanahu wa ta’alla akan tolong dirinya dan dimasukan ke dalam surge -Nya, seperti disebutkan dalam firman -Nya:
﴿فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ٥ وَصَدَّقَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ٦فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡيُسۡرَىٰ٧﴾ [ الليل: 5-7]
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah". (QS al-Lail: 5-7).

Dan bagi orang yang ingkar dan menolak enggan menerima kebenaran yang dijelaskan oleh Allah maka Allah akan masukan ke dalam neraka. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan dalam firman -Nya:
﴿وَأَمَّا مَنۢ بَخِلَ وَٱسۡتَغۡنَىٰ٨ وَكَذَّبَ بِٱلۡحُسۡنَىٰ٩ فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلۡعُسۡرَىٰ١٠﴾ [الليل:8-10]
"Dan adapun orang-orang yang bahil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar". (QS al-Lail: 8-10).

Maka Allah Shubhanahu wa ta’alla menolong hamba yang mau menerima kebeneran dan beriman pada -Nya, seperti dijelaskan dalam firman -Nya:
﴿ وَٱلَّذِينَ ٱهۡتَدَوۡاْ زَادَهُمۡ هُدى وَءَاتَىٰهُمۡ تَقۡوَىٰهُمۡ ١٧ ﴾ [ محمد: 17]
"Dan oraang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketaqwaannya". (QS Muhammad: 17).

Dan barangsiapa yang mengikari dan berpaling dari Allah Shubhanahu wa ta’alla dan kebenaran yang telah dijelaskan maka sesungguhnya -Dia tidak akan memberinya petunjuk, sebagaimana ditegaskan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:
﴿ كَيۡفَ يَهۡدِي ٱللَّهُ قَوۡما كَفَرُواْ بَعۡدَ إِيمَٰنِهِمۡ وَشَهِدُوٓاْ أَنَّ ٱلرَّسُولَ حَقّ وَجَآءَهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُۚ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٨٦ ﴾ [ آل عمران: 86]
"Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim". (QS al-Imraan: 86).

Sehingga kesimpulannya seluruh pembebanan syariat dalam bingkai taklif, manusia itu sanggup untuk mengerjakan atau memilih untuk tidak mengerjakannya, karena Allah Shubhanahu wa ta’alla menciptakan beban taklif tersebut memang sesuai bagi kedua-duanya, bagi orang yang mengikuti atau yang mengingkari, seperti disebutkan dalam firman -Nya:
﴿ إِنَّا هَدَيۡنَٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرا وَإِمَّا كَفُورًا ٣ ﴾ [ الإنسان: 3]
"Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir". (QS al-Insaan: 3).

Maksudnya akan kami beri dia petunjuk pada jalan yang lurus, maka adakalanya dia bersyukur atas karunia nikmat yang Allah Shubhanahu wa ta’alla berikan atau adakalanya dia kufur terhadap nikmat yang banyak tersebut, maka hal itu cocok, bisa dikerjakan pada orang pertama, sebagaimana bisa dilakukan pula pada orang yang kedua, dan ini semua bisa ditentukan oleh akal, maka jiwa bisa menerima dua hal, memilih menjadi orang fajir atau orang yang bertakwa. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firmanNya:
﴿ وَنَفۡس وَمَا سَوَّىٰهَا ٧ فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا ٨ ﴾ [ الشمس: 7-8]
"Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya". (QS asy-Syams: 7-8).
Kemanapun jiwa menentukan arah tersebut maka berakhir pada keselarasaan pahala dan balasan yang akan diperolehnya, jika dirinya taat maka baginya surga, seperti dijanjikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:
﴿ قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا ٩ ﴾ [ الشمس: 9]
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu".(QS asy-Syams: 9).

Jika memilih untuk berbuat maksiat maka baginya adalah neraka, seperti disebutkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman     -Nya:
﴿ وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا ١٠ ﴾ [ الشمس: 10]
"Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya". (QS asy-Syams: 10).

Dan ketika dirinya menentukan arah diantara dua jalan tersebut maka disitulah letak penghitungan kelak di sisi Allah Shubhanahu wa ta’alla pada hari kiamat. Maka yang namanya orang menjadi taat atau berbuat maksiat itu tergantung pada pilihan seorang hamba, kemudian Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan pahala dan balasan selaras dengan pilihannya tersebut. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan didalam firman -Nya:
﴿مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰم لِّلۡعَبِيدِ٤٦﴾ [فصلت: 46]
"Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba -Nya". (QS Fushshilat: 46).

Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda didalam sebuah hadits qudsi, Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « يَا عِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ » [أخرجه مسلم]
"Wahai hamba -Ku, hanyalah itu amalan kalian yang Aku hitung untuk kalian, kemudian Aku balas amalan tersebut, maka barangsiapa yang mendapati baik (balasannya) memujilah kepada Allah, dan barangsiapa yang menjumpai buruk (balasanya) maka jangan mencela melainkan dirinya sendiri". HR Muslim no: 2577.

Maka segala sesuatu kejadian yang terjadi dialam semesta ini hanyalah terjadi sesuai dengan kehendak Allah azza wa jalla, dan setiap kebaikan terjadi itupun berdasarkan ke inginan -Nya baik secara hukum alam maupun sesuai syariat, adapun setiap kejelekan yang terjadi maka hal tersebut terjadi karena kehendak -Nya secara hukum alam bukan hukum syar'i. karena tidak mungkin terjadi suatu kejadian di alam kekuasaan -Nya melainkan setelah mendapat izin, dan diketahui serta dikehendaki oleh Allah azza wa jalla, dan Allah Shubhanahu wa ta’alla menegaskan hal itu melalui firman -Nya:

﴿ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡر لِّلۡعَٰلَمِينَ ٨٧ ﴾ [ ص: 87]
"Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam".(QS Shaad: 87).

Di tangan Allah Shubhanahu wa ta’alla segala kebaikan, sedangkan kejelekan tidak bisa dikembalikan pada -Nya. Dan setiap perbuatan Allah Shubhanahu wa ta’alla di kerajaan -Nya adalah baik, adapun setiap kejelekan terjadi maka hal itu sambil dibarengi bersama hikmah secara mutlak, dan hikmah secara mutlak ini dibarengi bersama dengan kebaikan secara mutlak. Dan kejelekan hanyalah terjadi selaras dengan ketentuan takdir dari Allah azza wa jalla. Allah Shubhanahu wa ta’alla menyatakan hal itu dalam firman -Nya:
﴿ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ لَيَجۡمَعَنَّكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِۗ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثا ٨٧﴾ [ النساء: 87]
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain -Dia. Sesungguhnya -Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah? (QS an-Nisaa': 87).

Kesimpulannya semua jenis kebaikan dan kebajikan yang ada itu semua dari Allah ta'ala, dan seluruh kejelekan dan perbuatan buruk maka bersumber dari hamba. Seperti dinyatakan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla dalam firman -Nya:
﴿ مَّآ أَصَابَكَ مِنۡ حَسَنَة فَمِنَ ٱللَّهِۖ وَمَآ أَصَابَكَ مِن سَيِّئَة فَمِن نَّفۡسِكَۚ وَأَرۡسَلۡنَٰكَ لِلنَّاسِ رَسُولاۚ وَكَفَىٰ بِٱللَّهِ شَهِيدا ٧٩ ﴾ [ النساء: 79]
"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi". (QS an-Nisaa': 79).