Klik dong

Selasa, 16 Desember 2014

SIFAT MALU



SIFAT MALU

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du:
Sesungguhnya di antara sifat terpuji yang diseru oleh syara’ adalah sifat malu. Allah swt berfirman tentang Nabi Musa alaihis salam pada saat beliau membantu memberikan minum bagi kedua orang wanita:

25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". QS. Al-Qoshos: 25
Dari sa’id bin Zaid ra bahwa seorang lelaki berkata: Wahai Rasulullah berilah aku wasiat. Rasulullah saw bersabda: "Aku berwasiat kepadamu agar kamu malu kepada Allah sebagaimana engkau malu kepada seorang lelaki shaleh dari kaummu”.[1]
Dari Ibnu Mas’ud Al-badari ra bahwa sesungguhnya Nabi saw bersabda: "Sesungguhnya di antara perkataan yang di dapatkan dari nubuwah yang pertama: Apabila engkau tidak malu maka lakukanlah apa saja yang engkau kehendaki”.[2]
Hadits ini sebagai dalil yang menunjukkan bahwa malu sebgai perisai bagi seseorang dari tindakan yang bisa memudharatkannya pada agamanya atau merusak akhlak dan muru’ahnya, sebab jika seseorang terlepas dari sifat malu ini maka dia tidak akan menghiraukan apapun keburukan yang dilakukannya.
Dari Abi Hurairah  ra bahwa Nabi saw bersabda: Iman itu memiliki tujuhpuluhan cabang atau enampuluhan cabang, yang paling utama adalah uacapan: لا إله إلا الله (tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah) dan yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan dan iman adalah satu bagian dari cabang tersebut”.[3]
Bangsa  Arab pada masa jahilyah menghiasi diri mereka dengan sifat malu ini. Abu Sufyan, sebelum keislamannya pada saat dia berhadapan dengan Heraklius, Raja Romawi untuk bertanya kepadanya tentang Nabi saw maka dia memberitahukan tentang diri pribadinya: Seandainya bukan karena rasa malu terhadap perasaan bahwa mereka mendapatiku berdusta maka aku pasti berbohong kepadanya”.
Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata: Dan akhlak malu ini termasuk akhlak yang paling baik mulia, agung., lebih banyak manfaatanya, sifat ini merupakan sifat khsusus bagi kemanusiaan, maka orang yang tidak memiliki rasa malu berarti tidak ada bagi dirinya sifat kemanusiaan kecuali dagingnya, darahnya dan bentuk fisiknya. Selain itu, dia tidak memiliki kebaikan apapun, dan kalaulah bukan karena sifat ini, yaitu rasa malu maka tamu tidak akan dihormati, janji tidak ditepati, amanah tidak ditunaikan dan kebutuhan seseorang tidak akan pernah terpenuhi, serta seseorang tidak akan berusaha mencari sifat-sifat yang baik untuk dikerjakan dan sifat-sifat yang buruk untuk dijauhi, aurat tidak akan ditutup dan seseorang tidak akan tercegah dari perbuatan mesum, sebab faktor utama yang mendorong seseorang melakukan hal ini baik faktor agama, yaitu dengan mengharapkan balasan dan akibat yang baik (dari sifat yang mulia ini) atau faktor duniawi yaitu perasaan malu orang yang melakukan keburukan terhadap sesama makhluk. Sunnguh telah jelas bahwa kalaulah bukan karena rasa malu terhadap Allah, Al-Khalik dan sesama makhluk maka pelakunya maka kebaikan tidak akan pernah tersentuh dan keburukan tidak akan pernah dijauhi…..dan setererusnya”.[4]
Umar ra berkata: Barangsiapa yang rasa malunya sedikit maka sifat waro’nyapun berkurang dan barangsiapa yang sifat wara’nya berkurang maka hatinya pasti akan mati”.[5]
Dari Abdillah bin Amr bin Ash ra berkata: Rasulullah saw melewati seorang lelaki dari kaum Anshor dan dia sedang menasehati saudaranya tentang sifat malu, maka Rasulullah saw bersabda: Biarkanlah dia sebab sifat malu adalah bagian dari iman”.[6]
Seorang penyair berkata:
Apabila engkau tidak takut akibat yang terjadi pada waktu malam
Dan tidak malu maka perbuatlah segala apa yang engkau kehendaki
Demi Allah! tiada kebaikan yang bisa diharap dalam kehidupan ini
Dan tiada pula manfaat bagi dunia ini apabila sifat malu telah sirna
Seseorang tetap hidup dalam kebaikan selama dia memiliki rasa malu
Dan tangkai tetap tegak selama kulit yang melapisinya masih  menetap
Ibnul Qoyyim Rahimahullah berkata: Salah akibat kemaksiatan adalah hilangnya rasa malu sebagai unsur utama hidupnya hati, dia adalah pandasi setiap kebaikan, maka menghilangnya rasa malu dari seseorang berarti sirnahnya seluruh kebaikan. Disebutkan di dalam hadits yang shahih: "Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan”.[7] Maksudnya  adalah dosa-dosa akan melemahkan rasa malu seorang hamba bahkan akan menghilangkannya secara keseluruhan, bahkan terkadang dia tidak merasakan adanya pandangan dan pengetahuan manusia terhadap kondisi dan keadaannya yang buruk, selain itu banyak orang yang justru asyik menceritakan keburukan dirinya dan kebusukan apa yang telah diperbuatnya. Faktor utama yang mendorongnya berbuat demikian adalah sirnanya rasa malu. Lalu pada saat seseorang telah sampai pada tingkat ini maka kebaikan tidak bisa diharapkan dari dirinya, dan barangsiapa yang malu bermaksiat kepada  Allah maka Allah-pun malu menyiksanya pada hari dirinya menghadap kepada Allah dan barangsiapa yang tidak malu bermaksiat kepada Allah maka Allah tidak malu menimpakan siksa atas dirinya”.[8]
Contohnya adalah orang yang bepergian ke luar negeri hanya untuk mencari kesenangan dan syahwat, lalu salah seorang di antara mereka bangga menceritakan kebinalan yang pernah dilakukannya dari minum khamar dan berbuat zina atau kemaksiatan yang lainnya. Dari Abi Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda: "Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang menampakkan kemaksiatannya, termasuk menampakkan kemaksiatan adalah bahwa seseorang berbuat mesum pada waktu malamnya lalu pada waktu paginya padahal Allah telah menutupi kemaksiatannya, namun dia mengatakan: Wahai fulan tadi malam aku telah berbuat ini dan ini, kemaksiatannya telah ditutupi oleh Allah lalu pada waktu pagi dia menyingkap apa yang telah disembunyikan oleh Allah”.[9]
Mereka ini mendapatkan bagian dari apa yang disebutkan oleh firman Allah swt:

19.  Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak Mengetahui. QS. Al-Nur: 19
Ada sebuah perkara yang mesti diperhatikan, yaitu meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar tidak termasuk bagian dari sifat malu. Allah swt berfirman:

53.  dan Allah tidak malu (menerangkan) yang benar. QS. Al-Ahzab: 53
Imam Nawawi berkata: Terkadang orang merasa bingung, di mana seseorang yang pemalu merasa malu mengarahkan orang yang dihormatinya kepada kebenaran, shingga akhirnya dia meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, terkadang rasa malu membawanya untuk meninggalkan beberapa haknya. Maka jawaban terhadap perkara ini adalah apa yang telah diungkapkan oleh para ulama, seperti  Abu Amr bin Ashalah bahwa perkara ini tidak termasuk di dalam kategori malu, bahkan dia termasuk kelemahan dan kehinaan serta kehancuran. Sebab malu yang sebenarnya adalah sebuah sifat baik yang mendorong seseorang meninggalkan perbuatan buruk dan mencegah seseorang dari melalaikan hak orang lain”.[10]
Dan Nabi saw telah menganjurkan amar ma’ruf nahi mungkar dan memerintahkan untuk merubahnya. Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra bahwa Nabi saw bersabda: "Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran maka hendakalah dia merubahnya dengan tangannya, dan jika dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan lisannya dan apabila dia tidak mampu maka hendaklah dia merubahnya dengan hatinya dan itulah selemah-lemah keimanan”.[11]
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan kepada seluruh keluarga dan shahabatya.





[1] Al-Zuhd, Imam Ahmad hal: 46 dan Al-Syu’ab karangan Al-Baihaqi : 6/145-146 no: 7738
[2] Shahih Bukhari: 4/113 no: 6120
[3] Shahih Bukhari: 1/20 no: 9 dan shahih Muslim: 1/63 no: 35
[4] Diringkas dari kitab darus sa’adah, Ibnul Qoyyim halaman: 277 di ambil dari  kitab: Nudhratun Na’im: 5/1802
[5] Makarimil Akhlaq, Ibnu Abid Dunya hal: 82-83 no: 93
[6] Shahih Bukhari: 1/24 no: 24 da shahih Muslim: 1/63 no: 36
[7] Shahih Bukhari: 4/113 no:  6117 dan shahih Muslim: 1 no: 263 no: 37
[8] Al-Jawabul Kafi liman sa’ala anid dawa’I syafi: 61-62
[9] Shahih Bukhari: 4/104 no: 6069 dan shahih Muslim: 4/2298 no: 2990
[10] Syarah shahih Muslim: 1/5-6
[11] shahih Muslim: 1/69 no: 49

Adab Berdo'a



Adab Berdo'a

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada Rasulullah saw, dan aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Yang Maha Esa dan tiada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Wa Ba’du:
Diantara ketaatan yang paling mulia dan ibadah serta taqarrub yang paling agung yang semestinya dijalankan oleh seorang muslim adalah berdo'a, karena di  dalam do'a tersebut  terkandung rasa pengakuan terhadap kebesaran Allah Yang Maha Menciptakan dan kekuatanNya, serta kekayaanNya, juga kekuasaanNya, dan di dalam do'a juga terkandung kerendahan seorang hamba dan kebutuhannya di hadapan Tuhannya yang Mahapencipta dan Mahatinggi.
Allah swt telah memerintahkan kita untuk berdo'a dan Dia telah menjanjikan untuk mengabulkan permohonan kita. Firman Allah Ta'ala:

186. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. QS. Al-Baqarah: 186.
Dan manusia dalam masalah do'a ini terbagi menjadi tiga kelompok: Di antara manusia itu ada yang menyeru selain Allah, mereka adalah orang-orang musyrik, namun jika mereka mengikhlaskan do'a mereka dalam kondisi yang kritis maka do'a tersebut bermanfaat bagi mereka.Firman Allah Ta'ala:

65.  Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah). QS. Al-Ankabut: 65
Sama dengan kondisi ini: seorang muslim yang berdo'a kepada Allah dalam kondisi kritis dan bencana, namun apabila kondisi lapang datang maka dia lupa dan lalai berdo'a kepada Allah.
Dari Abi Hurairah ra berkata: Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang senang agar Allah mengablkan baginya pada saat kritis dan bencana  maka hendaklah dia memperbanyak do'a pada kondisi lapang".[1]
Di antara manusia ada yang diberikan oleh Allah karunia yang luas namun mereka tidak bersykur namun mereka tetap angkuh dan sombong. Allah berfirman tentang orang-orang seperti ini:

60. Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[1326] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". QS. Gafir: 60
Di antara mereka adalah kaum mu'minin yang mengetahui kekuasaan Tuhan mereka dan mereka meyakini bahwa tidak ada kebahagiaan dan kemenangan di dunia akherat kecuali dengan Allah. Allah berfirman memuji mereka:

90. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada kami dengan harap dan cemas[. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami. QS. AL-Anbiya': 90
Nabi saw menjelaskan keutamaan berdo'a bagi umatnya di dalam sebuah sabda beliau:Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah selain do'a".[2]
Dan dari Anas dia berkata: Nabi saw bersabda: sering-seringlah menyebut asma Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Mulia".[3]
Nabi saw menjelaskan di dalam sabdanya bahwa sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla senang terhadap seorang hamba yang banyak berdo'a dan sikap yang memelas dan memaksa. Seorang penyair berkata:
Janganlah kau meminta kepada Anak Adam suatu kebutuhan
Mintalah kepada Zat yang pintuNya tidak pernah tertutup
Allah murka jika engkau meninggalkan meminta kepadaNya
Dan anak Adam akan marah jika engkau meminta kepadanya
Di dalam sya'ir yang digantngkan pada tembaok ka'bah seorang penya'ir jahili berkata:
Dan Allah tidak memiliki sekutu siapapun
Maha Mengetahui apa yang disembunyikan oleh hati
Orang yang meminta kepada manusia, maka mereka menghalanginya
Dan orang yang meminta kepada Allah tidak akan pernah kecewa
Dan wajib bagi orang yang berdo'a untuk memperhatikan perkara di bawah ini:
Pertama: Ikhlas semata karena Allah di dalam berdo'a. Dari Nu'man bin Basyir ra berkata: Rasulullah saw bersabda: "Doa itu adalah ibadah".
Allah swt telah menjelaskan  di dalam Al-Qur'an tentang wajibnya ikhlas di dalam menjalankan ibadah:

5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…". QS.Al-Bayyinah: 5
Firman Allah Ta'ala:

18.  Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. QS. Al-Jin: 18
Kedua: Hendaklah seorang hamba tidak tergesa-gesa dalam mengharap terkabulnya do'a, sebab Allah swt lebih mengetahui apa yang lebih maslahat bagi hambaNya, dan tidaklah seseorang berdo'a kecuali Allah akan memberikan dan mengabulkan permohonannya baik dengan diberikan apa yang mintanya, atau dengan dipalingkan darinya keburukan yang sebanding dengan do'anya atau akan disimpankan baginya dengan do'a tersebut pahala di akherat, sebgaimana yang dijelaskan di dalam hadits yang shahih dari nabi saw[4], oleh karena itulah Nabi saw melarang orang yang tergesa-gesa dalam berdo'a. Dari Abi Hurairah ra bahwa sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: Salah seorang di antara kalian akan dikablkan do'anya selama dia tidak tergesa-gesa, dia berkata: Aku telah memohon namun do'aku tidak dikabulakn ".[5]
Ketiga: Tidak berdo'a untuk berbuat dosa dan memutuskan silaturrahmi
Dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Seorang hamba senantiasa akan dikabulkan do'anya selama dia tidak berdo'a dalam rangka berbuat dosa dan berdo'a untuk memtuskan silatrrahmi".[6]
Keempat: Agar hati orang yang berdo'a hadir saat dirinya berdo'a, hatinya mengahadap kepada Allah saat dirinya bermunjat kepadaNya dengan penuh kekhusyu'an dan ketenangan dan yakin kalau do'anya akan dikabulkan.
Dari Abi Hurairah  ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Berdo'alah kepada Allah dan yakinlah bahwa do'a kalian dikabulkan oleh Allah, dan ketahuilah bahwa Allah tidak menerima do'a orang yang hatinya lalai dan lupa".[7]
Kelima: Bertaqwa kepada Allah dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Firman Allah Ta'ala:

11. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. QS.Al-Ra'd:11
Sebagian ulama salaf berkata: Janganlah engkau merasa bahwa do'amu terlambat dikablkan padahal dirimu telah menghalangi terkabulnya do'a itu dengan melanggar berbagai kemaksiatan.
Seorang penyair berkata:
Kita selalu menyeru Tuhan kita dalam setiap kesusahan
Lalu melupakanNya saat kesusahan tersebut menghilang
Bagiamana kita mengharap agar do'a segera dikabulkan
Padahal jalan terkabulnya kita halangi dengan kemaksiatan
Keenam: Kita harus menyadari bahwa  di antara perbuatan paling utama yang bisa menghalangi terkabulnya do'a adalah  memakan makanan yang haram, namaun sangat menyedihkan bhawa banyak di antara kita yang tidak memperhatikan masalah ini
Dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Akan datang kepada manusia suatu masa di mana seseorang tidak menghiraukan dengan apakah dia mengambil hartanya apakah dari sumber yang halal atau dari sumber yang haram".[8]
Contaohnya adalah sebagian orang kita lihat mengambil harta orang lain secara zalim dan paksa, di antara mereka ada yang mengambilnya dengan cara menipu dan berbohong, di antara mereka ada yang mengurangi hak para pekerja, di antara mereka ada yang mengifestasikan hartanya pada bank-bank riba atau mengelola harta mereka dengan perniagaan dan teransaksi yang diharamkan atau transaksi yang tidak jelas  halal dan haramnya.
Dari Abi Hurairah ra berkata: Rasulullah saw bersabda: Wahai sekalian manusia!, sesungguhnya Allah itu Maha baik dan tidak menerima kecuali yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman apa yang diperintahkan kepada para rasul. Allah Ta'la berfirman:

51.  Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. QS. Al-M'minun:51
Allah berfirman:

172.  Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu. QS. Al-Baqarah:  172
Kemudian beliau menceritakan tentang seorang lelaki yang mengadakan perjalanan yang panjang dalam keadaan rambut yang acak-acakan dan kumal lalu dia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdo'a: Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku, padahal makanannya haram, minumannya haram dan pakiannya haram dan diberikan makan dari sumber yang haram, lalu bagaimana do'anya bisa dikabulkan".[9]
Para ulama telah menyebutkan beberapa adab di dalam berdo'a dan hal tersebut telah mereka sebutkan di dalam kitab-kitab mereka. Maka hendaklah bagi seorang hamba untuk menggali dan mengamalkannya. Di antara adab tersebut adalah agar orang yang berdo'a tersebut memulai do'anya dengan mengucapkan pujian dan pujaan kepada Allah dengan segala pujian yang dimilikiNya, kemudian mengucapkan shlawat dan salam kepada Nabi saw, meminta dengan tekad yang kuat maka janganlah dia berdo'a dengan mengatakan: Ya Allah jika Engkau menghendaki maka ampnilah diriku dan yang sepertinya. Dan hendaklah dia mengangkat tangannya saat berdo'a sambil menghadap ke kiblat dan dalam keadaan suci, serta berdo'a dengan mengakui semua dosa-dosanya dan karunia Allah atas dirinya. Di antara adab saat berdo'a adalah memperlihatkan kebutuhan yang tinggi kepada Allah dan mengadukan semua permasalahan kepadaNya, dan agar orang yang berdo'a tidak melampui batas di dalam do'anya. Semua adab-adab berdo'a tersebut telah dijelaskan di dalam sunah-sunnah yang shahih dari Nabi saw. Dan hendaklah orang yang berdo'a memanfaatkan waktu-waktu mustajab diterimanya do'a, seperti pada saat bersujud, di antara azan dan iqomah, pada pertengahan malam, sore hari jum'at, pada saat turunnya hujan, saat berbuka bagi bagi orang yang berpuasa, pada saat lailatul qodar, pada hari Arofah, setelah mengerjakan shalat yang diwajibkan, pada saat azan untuk shalat wajib, saat iqomah, pada saat pasukan berangkat berperang di jalan Allah, pada saat bangun malam dan berdo;a dengan do'a yang dianjurkan. Semua saat mstajab ini telah dijalaskanoleh sunnah Nabi saw yang shahih.
Dan telah dijelaskan oleh Nabi saw di dalam hadits-hadits beliau tentang orang-orang yang diterima do'anya, di antaranya adalah orang yang mendo'akan saudaranya yang berada di tempat lain, imam yang adil, do'a anak yang shaleh dan do'a orang yang bangkit dari tidurnya lalu berdo'a dengn do'a yang diperintahkan oleh Rasulullah saw dan do'a-do'a lainnya.
Dari Abi Hurairah ra, Nabi saw bersabda: Do'a orang yang dizalimi diangkat oleh Allah di atas awan, dan dibukakan baginya pintu-pintu langit dan Allah berfirman: Demi Keagungan dan KemuliaanKu sesungguhnya Aku akan menolongmu sekalipun setelah beberapa saat".[10]
Dan Nabi saw memilih do'a-do'a yang mengandung makna gelobal pada saat beliau berdo'a. Beliau berdo'a dengan do'a ini:

201.  "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". QS. Al-Baqarah: 201
Dan beliau banyak berdo'a dengan mengatakatan:
يَا مُقُلِّبَ اْلقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنَكَ
"Wahai Zat Yang Membolak balikkan hati tetapkanlah hatiku di atas agamamu".
Dan beliau berkata kepada Ali: Berdo'alah dengan mengatakan:
اللهم اهدني وسددني
Ya Allah berikanlah kepadaku hidayah dan mudahkanlah aku kepada kebenaran".
Dan beliau mengajarkan Aisyah untuk berdo'a pada saat lailatl qodar dengan mengatakan:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني
"Ya Allah  seseungguhnya Engkau Tuhan Yang Maha Memaafkan maka maafkanlah aku".
Dan banyak lagi do'a-do'a yang lainya.
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada Nabi kit Muhammad dan seluruh keluarga dan shahabatnya.






[1] Sunan Abu Turmudzi: 5/462 no: 3382 dan dia berkata: Hadits garib dan dishahihkan oleh Albanidi dalam shahihl jami' shagir no: 6290
[2] Sunan Turmudzi: 5/455 no: 3370 Abu Isa berkata: Hadits ini adalah hadits hasan garib dan dishahihkan oleh Al-Abani di dalam kitab shahih Turmidzi 3/138
[3] Sunan Turmudzi: 5/539 no: 3524 dan Abu Isa berkata: Hadits ini garib dan shahihkan oleh al-Bani di dalam shahihut Turmudzi: 3/172
[4] Lihat: Musnad Imam Ahmad: 3/18
[5] HR. Al-Bukhari: 4/161 no: 6340 dan Muslim 4/2095 no: 2735
[6] Bagian dari hadits yang terdapat di dalam shahih Muslim: 4/2096 no: 2735
[7] Sunan Turmudzi: 5/517-518 no: 3479 dan dihasankan oleh Albani di dalam hadits-hadits yang shahih no: 594
[8] Shahihul Bukhari: 2/84 no: 2083
[9] HR. Muslim: 2/73 no: 1015
[10] Sunan Tirmidzi: 5/578 no: 3598 dan Abu Isa mengatakan: Hadits ini hasan.